Selasa, 23 Agustus 2011

Puisi Santi Ela Sari

SANTI ELA SARI, lahir di Jakarta, 5 November 1992, mahasiswa Falkutas Komunikasi di Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII). Hobi menulis puisi, cerpen, dan novel. Bercita-cita ingin menjadi seorang penulis novel dan editor di sebuah majalah. Sekarang tinggal di Jalan Cipinang Pulo Maja RT 15 RW 11 No, 40, Jakarta Timur, 13410, Jakarta.

TAK USAH LAGI KAU BERULAH, PADANGKU SAYANG

Terkenang samar-samar akan memori di kota Minang
Gambarnya buram dan berbayang
Seraya mencari seraya hilang
Ah, Kau kemana saja! Kawanku sayang

Disana masih ingatkah engkau
Pada hikayat lama cerita tentang tokoh bertuah
Kala itu kita hanya angguk-angguk paham
Ketika bunda sedang berdendang

Usai itu..
Kita akan saling berkejar berlari
Menuju lautan biru
Hingga kaki kita saling berpercik
Diantara pasir putih yang berkumpul
Sambil disambut deru ombak
Serta panggilan nyiur yang melambai

Kala itu tinggal dahulu
Dan kini mulai temaram dan redup
Tak ada lagi yang disebut kita
Hanya meninggalkan aku sendiri
Ah, kota Minang! Sedang apa sahabatku sekarang

Kau..!!
Mengapa simpan kawanku dibawah nisan
Merenggutnya paksa hingga ia menyerah
Kini kawanku...
Telah menyatu padamu dalam tanah dan debu
Maka peluklah ia dan tak usah lagi meronta
Merampas paksa kawan manusia lain
Cukup aku yang hilang teman
Maka kau kota Minang, tak usah lagi goyangkan tanahmu
Diam saja, tenang saja, damai saja

Lalu kelak
Ketika kaki ini anjangsana di kotamu
Harap kau sambut aku
Di Teluk Bayur itu, di dermaga itu
Dengan keramahanmu yang dulu
Maka tak usah lagi kau berulah
Kota Padangku sayang

SEMAYAM CINTA DI PESISIR KOTA PADANG

Tak usah ragu
Begitu katamu kasih
Diantara kapal-kapal yang saling menepi
Maka kita saling berpeluk walau tanpa sapa
Inilah kita, saat mata kita saling bercumbu penuh kasih
Dipesisir kota Padang

Kerang dipinggir pantai kau sulap jadi intan untukku
Nyanyian burung dilangit kau ubah jadi paduan suara
Pekatnya bau laut kau pindai jadi sewangi air atar
Lalu kita berdansa berjingkat bersama
Tersenyum malu-malu dalam balutan cinta

Dunia diam ketika kau bilang "Aku mencintaimu"
Dan aku menunduk tersipu malu
Tak sedikitpun aku menjawab karena katamu kau sudah tahu
Kemudian cinta kita bertaut diikat dua cincin ranting

Lalu kita terduduk memandangi sang surya yang kian jatuh
Selalu dalam diam, menikmati dengan penuh damai
Dengan tangan yang saling mengenggam
Inilah kita, saat nafas kita saling menghembus hangat
Dipesisir kota padang

Abadilah cinta kita
Untuk masa demi masa
Seabadi eloknya Kota Minang
Jika ada selisih mencuat disuatu hari
Mari kita ingat pesisir kota ini
Saat hari dimana kita saling bersumpah
Akan mengubur diri bersama di kota ini
Di pesisir Kota Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar