Kamis, 25 Agustus 2011

Puisi Zulfikar, S.Sn

ZULFIKAR, S.Sn, berasal dari Provinsi Aceh. Alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Bergiat di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Sekarang tinggal di Kota Medan, Sumatera Utara.

PADANGKU

Terkenang satu masa
Pesona tentang alam
Sulit dilupakan
Semua kenangan indah

Laut, kota, budaya, sampai cultur unik
Nama mu memuncak singasana gonjong
Menerjang langit biru
Budaya menghempas luas jajaran samudra
Negri kayangan adi kuasa mengakui

Gemilang tradisimu mata dunia
Sulit menutup mata
Menghempas kepinggir penangkal ombak

Berat dicoba berbagai keadaan
Pilu insap tangis mengkwatirkan

Syair-syair indah saluang mengaung sepanjang masa
Bansi mengelempar dinding
Lutut bergeletar
Tak berdaya menahan irama mematikan penikmat


Budaya tradisi menyonsong cerita lama
Kata pepatah “adait bersandi syarak, syarak bersandi kitabbullah
Ini ikral melekat

Sungguh hebat tari dipersembahkan pada dunia
Mematikan rasa tari silek
Sulit diterjemah para penjajah
Kagum tak terhingga
Sulit melupakan arwah mu

Berkiprah terus
Menyongsong matahari seperti lumatan panas
Jaya sepenjang masa
Agar jiwa damai
Memeluk dalam angan

Medan, Agustus 2011

BUNDO KANDUANG

Bisik mendesing Minangkabau
Memperkarsai satu adat
Bibir lantam terbujur kaku
Mengoyak tunduk
Keibuan menjadi tauladan

Minangkabau harum dipusaran
Rumah adat pelita
Mamak dalam mufakat
Terbukam melihat
Keras nama itu

Harta pusako terbentang
Tertutup diam
Kunang luput kehampaan
Terbungkus indah
Tak mampu koreksi

Desir sudah
Takut seketika
Buka aura
Mata terpejam
Kuat aliran itu
Tertumpuk habis kubangan

Alek Nagari
Dia pemengang
Cerita indah terkenang

Mengaung menakutkan
Hening malam terpaku
Lentera bak buaian
Wajah hitam
Kibar hati
Rona merah
Darah bercucuran
Padi kuning
Sumber kehidupan
Membawa kedamaian

Rasukan mimpi terbelenggu
Hempas angin
Membius tajam pemimpin

Reda sudah
Kalimat kata menunduk
Bara hati membisu
Kemana saat itu
Pelupuk mata henti
Hanya suratan
Jadi himbauan

Sungguh sedih
Berada sisi nyata
Tak mampu mengadu

Buka catatan itu
Kata baik indah
Adakah dunia terdiam
Air tergenang
Bak sungai mengalir deras,,

Medan, Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar