Jumat, 30 September 2011

Puisi Rahmi Intan Jeyhan

RAHMI INTAN JEYHAN, lahir di Padangpanjang 2 Mei 1995, lebih sering disebut R.I. Jeyhan. Ia seorang siswa SMA Negeri 1 Padangpanjang yang memilih belajar dan terus menulis sebagai rutinitas yang tak terelakkan, dan tak ingin dielakkannya. Menjadi siswa boarding school adalah pilihannya. Sekarang menjadi reporter di Tabloid Editorial, Sumatera Barat. Setelah sebelumnya sempat bergabung dan menimba banyak ilmu di Tabloid P’Mails, Sumatera Barat. Karya pertamanya yang dibukukan saat menduduki kursi kelas VI SD adalah kumpulan puisi dan cerpen Di Sudut Malam Sebuah Kota, penerbit P’Mails. Karya-karyanya baik fiksi atau non-fiksi telah dimuat di berbagai media cetak Sumatera Barat, seperti Padang Ekspres, Singgalang, Tabloid Publik, dan lainnya.

MENGANTAR MANDEH PULANG

Mandeh,
bangunlah!
rumah tengah menyeru aromamu
gertak lumut pagar menggigil
mengulum senyum beku
hujan merunduk lewat bocor atap serambi
menjejakkan datangnya dari tunas langit
tumbuh atas hati sesiapa
menjalar akar-akar sekalipun tak tega
membunuh lumut sempat jadi temannya

Mandeh,
bangunlah!
Rumah berpagar gonjong Teluk Bayur
menengadah tatapnya menggeliati tatapmu satu-satu
buncit rangkiang mengeja namamu
Mandeh,
rumah yang tercengkram di dadamu
tak pernah mengutuki rindunya padamu
tak beda denganmu, oh Mandeh...
Bangunlah, kita telah pulang.

Mandeh,
tolong bangunlah..
masih pekat manis bengkuang dekap jemari
tumbuh dari bengkuang sebelumnya
lahirkan bengkuang seterusnya
menjalar tiap tapak yang kita iringkan di rumah
gelora penuh koar tentang kelahiran
hingga sisa sorak pedagang jalanan kota Padang
bengkuang,, ah !
masih pekat dalam takar dada mandeh
seakan lantunan silsilah yang tak akan ada habisnya
atas nama saudara dari bengkuang yang sama
manis dan tak punya warna
tak pihak siapa-siapa.

Mandeh,,
bangunlah !
Tanah silsilah selipkan namamu
dalam riak Aie manih
runtuh hujan lapangkan becek cermin
mengembang bayang gonjong Rumah Gadang


Mandeh,
ayo bangunlah !
Bukankah kau rindu rumah
berbincanglah dengan ilalang parak belakang
ia akan cerita semua padamu
tentang Padang, rumah kau rindu
meski selalu kau genggam di kedalaman dada
menguap ke jantung
mengaliri aorta menggepul di otak
terdesak ke hatimu, Mandeh..
Merindu apa yang ada di dirimu.

Mandeh,
bangunlah ! Mandeh...
Padang, tanah silsilah yang sempat menghijau
dibuncah lumut
memerah dilamun maut
kini menyeruak begitu subur karena tangisku, atasmu.
Tenanglah mandeh,
tangisku bukan tangis Malin kundang
bukan milik Sitti Nurbaya
adalah karena rindu yang sama
akan aroma Padang, rumah kita.

Mandeh..
Mohonku, bangunlah !
agar kau sempat menilik Padang
setidaknya menggigaulah
seperti igaumu saban malam,
:Pulang ! Pulang ! Rumah ! Padang !
berdengkurlah,
beritahu aku tak ada pesakitan
dalam namamu di silsilah ini

Mandeh,,
tak lagi kumohon kau bangun...
Lelahkah ?
atau Padang begitu nyaman
hingga kau hanya mau di dekapnya?

Mandeh,
bersama hujan Kota Padang
mengalirkan air mawar tumbuhkan kamboja
Kuantar Mandeh pulang
biar tenang kau dekap Padang yang kau rindukan.
biar tenang kau biar aku tenang dekap Yaasin dan nisan.
seperti igaumu selalu.

Mandeh, kau telah pulang dalam tenang liang...
di rumah di tanah silsilahmu, Padang.

KAU PUNYA OBAT MATA, TUHAN?

Tuhan...
Bisakah kita berbicara ?
Sungguh kutahu Kau Maha Berbicara
walau bukan empat mata
Siapa tahu tentang mata-Mu ?
yang kutahu di sana
dalam jarak entah berapa
dalam pandangan entah di mana
Kata orang di mana-mana
dalam dekat di balik punggungku
jauh karena jauhnya aku
Kita hanya sama-sama tahu
Aku berbicara pada-Mu
Kau dengar aku di tempat-Mu

Tuhan,
Apakah sekarang Kau menatapku
Aku hanya ingin didengar Tuhan,
tentang keluhku.
Dan aku ingin ditatap,
Seberapa besar salahku.

Kalau Kau menatap mataku
Kau lihat apa Tuhan ?
Tentu Kau jauh lebih tahu
Mataku abu-abu
tidak begitu besar sama seperti ibu
pinggirnya haus Tuhan
memerah. Merona tidak ?
Kata temanku merah itu cantik
Kata ibu pipiku saat malu
Kata entah siapa di kiriku
Merah itu siksa
(kuharap malaikat-Mu tidak merasa)

Teman-temanku juga bermata merah
Mungkin hanya kering Tuhan
Iya, mataku.
Sebab di sisa September yang lalu
mataku diperas
Aku nyaris lupa untuk apa
tapi terima kasih telah mengingatkanku
tentang hari itu

Tuhan, Kau tentu lihat
Hari merah penuh bangga
Mengaliri sungai-sungai darah
Memercak ke tanah
dan aku mengaisnya
Mencari sisa-sisa tanah pada deras hujan
Aku menangis Tuhan !

Aku hanya bocah memang
karena bocah itulah aku takut merah
Bukan sekedar semangka
terserak di tepi bibirku yang merah
tapi semangka yang pecah pada tubuh-tubuh
Kata ibuku begitu.

Tapi kenapa tanahku yang jadi merah Tuhan ?
Apa memang terlalu banyak salah !
Kalau begitu maafkan kami Tuhan..
seperti yang juga dititipkan ibu bapakku pada daun lontar
Tapi kami manusia Tuhan...
Kalau tak berdosa tentu bukan manusia.

Lihat merah Tuhan !
30 September di sore yang merah
Anginpun menguap merah
Teluk bayur berwarna merah
Saat matahari pada gelombang hampir memerah
Padangku pandang merah
Tanahku jadi tanah merah
Kata ibu hujan semangka
Tapi aku tak mau mencicipinya
            :apa ibu bohong padaku Tuhan ?

Merah ?
Apakah tanda marah ?
Sekali lagi maaf Tuhan
Juga maaf karena aku berlum sempat mandi
terlalu banyak memeras mata
jadi basah pada handukku
hingga tak sempat membersihkan diri
Biar aku membersihkan diri dulu Tuhan.

Eh, mataku merah !
Apa Kau punya obat mata, Tuhan ?
Kutahu Kau Maha Memiliki
atau Kau menitipkannya pada Rakib dan Atid-Mu ?
yang sedari tadi mendengar ocehanku
Berilah sedikit obat mata untukku !
agar hilang merah pinggirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar