Kamis, 29 September 2011

Puisi A. Warits Rovi

A. WARITS ROVI, kelahiran Sumenep Madura, 20 Juli 1988. Sambil melukis di PT. DOA ia terus menulis dan mendalami sastra di Komunitas Rumah Senja dan di sanggar 7 Kejora. Karya-karyanya tersebar di berberapa media baik nasional maupun lokal. Seperti; Seputar Indonesia, Radar Madura, www.penyairnusantra madura.blogspot.com dll. Selain itu karyanya juga terkumpul dalam antologi komunal di antaranya; Festival Bulan Purnama Majapahit Dewan Kesenian Mojokerto 2010, Mengukir Cahaya Ramadhan, 2011, Narasi Batang Rindu, 2010. Kini berdomisili di Jl. PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.

PERSAHABATAN BULAN DAN TANAH PADANG

Kuterbit setipis sabit
dalam sabung nyanyian kelelawar
aku bangkit menegaskan diri pada kesenyapan
;aku anak jadah malam dan awan
yang selepas percintaan
menitipkanku ke ceruk bebatang dan berbatuan

Seluruh kulit bumi aku ciumi
seumpama berahi perempuan jatuh bertepi
menggigit leher di landai malam menuju pagi
yang batu. yang bukit. yang kekapur
seluruhnya aku ciumi
tak ada pilihan yang membatasi
setelah aku mengerti
;pilihanpilihan adalah rumah kosong yang akan kita huni

Lindap rinai matakumencekung di setuap bangkai
amis dan busuk mengepungku
tapi bagitulah hatiku
pintu untuk bersekutu tak kenal rasa bau

Rumah Senja, 03 September 2011

LANSKAP SUNYI RUMAH GADANG

                        Buat Helmiyatul Wafirah

Kuketuk rahim fajar dua kali
selepas adzan sulung mengenalkan subuh
ke sepanjang jalan
yang tak mengingkari arah menuju Gadang

lalu di rumah itu
cangkul yang berayun berada di tulang
dan mata pisau berkilat di lidah
;Hidup adalah mengarahkan cangkul dan pisau
ke sehasta tanah yang sah

dan di rumah itu berpanggung juga
cerita-cerita di atas derail keringat dan dengus nafas
setelah hujnmu membiru rumputan
dalam solek pelangi yang tak lenyap
meski berkali tatap

rerimbun waktu dan kakimu yang menapak detak pintu
merumuskan perjalanan ke sebuah zaman
karena mengagungkan nenek moyang
adalah menjaga yang diucapkan
bukan menjaga halaman

di tangga itu
terlukis perumpamaan sebhayang

berundak ke atas mempertegas kelahiran anak Adam
bahwa yang disebut “sampai”
ialah berjuang ke haribaan Tuhan

lerai angina pesisir sekali menjilat atapatapnya
seperti melarung doa Bonjol
ke jantung cuaca
agar darah tatap untuk tanah
bukan tanah untuk darah

Rumah Senja, 03 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar