Jumat, 30 September 2011

Puisi Wayan Sunarta

WAYAN SUNARTA, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat belajar seni lukis di ISI Denpasar. Mulai suka menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Visual Arts, Majalah Arti. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005) dan Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010).

KUTITIP RINDUKU

kutitip rinduku di rumah Gadang
usai lelah menyusuri kota Padang
dari gunung, ngarai, hingga pantai
sejauh Teluk Bayur aku memburu
jejak musafir dan penyair
yang terjebak remah-remah sejarah

namun, kutemukan hanya Siti Nurbaya
mengenakan jaket kulit dan celana jeans
melamun di atas batu Malin Kundang
yang selalu berseru
     : ibu..ibu..ibu..jangan tinggalkan aku!

seraya menikmati nasi kapau dan coca-cola
aku dan Siti bercengkerama
tentang cinta dan bencana
tentang toleransi dan agama
tentang puisi dan facebook
sesekali kami berbalas pantun
begitu mesra, begitu sahaja

di jembatan tua itu
akhirnya kami berpisah
dia semayam di Gunung Padang
aku menyepi di gua diri
selalu kuingat pesannya:
jangan lupakan rumah Gadang..

Denpasar, 29 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar