Selasa, 27 September 2011

Puisi Muhammad Fadhli

MUHAMMAD FADHLI, lahir di Padang, 13 Oktober 1976. Menuntaskan pendidikannya di Teknik Mesin Universitas Bung Hatta, pada tahun 1999. Kesenangan menulis telah dimulai sejak Sekolah Dasar (SD), diawali kesenangan membuat sinopsis dari setiap film yang pernah ditontonnya. Ketika menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), dia mulai menulis cerita pendek remaja, cerita pendek anak, puisi, anekdot serta mencipta lirik dan lagu. Beberapa cerita pendeknya yang pernah di muat di media masa saat masih SMP berjudul  “Buto Ijo” (Harian Haluan 1989), “Jari-jari Patah” (KMS Singgalang 1990). Karya terbarunya yang telah dimuat di media masa adalah puisi berjudul “Rakyat Merintih” (Harian Singgalang 2008), “Mati (Kado untuk Munir)” (Harian Singgalang 2008), “Cintaku di Coklat” (Harian Singgalang 2008). Dia juga mencintai dunia fotografi dan salah satu foto beritanya yang pernah di muat media masa adalah foto yang  berjudul “Maskot Kota Padang (Tugu Bingkuang)” (Harian Singgalang 2010), foto tentang parahnya kerusakan maskot kota Padang akibat gempa. Di tahun 2011, Puisi “Mati (Kado untuk Munir)” di deklamasikannya sendiri, dan dipublikasikan melalui youtube. Di tahun yang sama Fadhli juga mempublikasikan lagu religinya di Youtube yang berjudul “Taubat”, video klip lagu “Taubat” ini telah di tonton lebih dari 400 kali tayang, dapat di saksikan di link berikut ini http://youtu.be/n4rB7rGY3-c.

PADANG, 7 AGUSTUS 1669 

Langit gelap menudungi tanah basah oleh air mata
dari hulu mata janda-janda sunyi yang merintih perih
meratapi jasad suaminya yang mati dibunuh kompeni
Tangis bayi nya pun bertautan di rentang malam
ratapan kehilangan orang tercinta
begitu tajam menyayat hati, luka dicelup asam perihnya
seperih bilah rebab melagukan duka
“Bapakmu tak ada lagi Nak”.

Aliran batang Kuranji beriak mengukur waktu
amarah pun kian menumpuk di lumbung hati
subur tanah  negeri kami hanyalah kelaparan bagi anak negeri
sawah yang luas hanyalah regukan air liur di kerongkongan
Kaya hasil alam negeri kami
untuk pengisi gelas-gelas arak
hanyalah untuk kebiadaban kompeni  sang perampas nasi kami
untuk melenakan nafsu birahi  kompeni di ranjang empuk asusila
untuk  kemegahan peradabannya negeri kolonial
megah di atas penderitaan kami bangsa terjajah
Negeri kami bukanlah untuk kami
Bukankah kami pemilik sah negeri ini ?
Haruskah kami satu persatu mati kelaparan dalam kebodohan ?

Malam 7 Agustus 1669
Aliran batang Kuranji pun terus mengalir menuakan waktu
tiupan angin Gunung Naga datang membawa harapan
untuk wujudkan asa besulam rencana
bersuluh kedipan rasi bintang
menuntun langkah sang pejuang
dan  berakhir di depan loji Kompeni

Saatnya lah kami anak negeri untuk bernyali
merebut hak anak-anak negeri kami
meski hanya berbekal semangat di dada
Takkan gentarkan  kami !

Kompeni lengah  tiada mengira
pejuang-pejuang menyerang bertubi tak beri kesempatan
satu persatu kompeni bertumbangan
terkapar meregang nyawa di kaki pejuang
pejuang pun kian beringas tak tergoyahkan

Bambu runcing memerah,  darah pun menetes ke tanah
menyurutkan nyali kompeni yang tersisa
dua puluh delapan ribu gulden kolonial didera kekalahan
pejuang pun menguasai Loji  Kompeni
dan bersorak-sorak gembira luapkan suka cita

Merdeka negeriku !
Merdeka bangsaku  !
Ini adalah negeri kami !
Milik bangsa kami !
bermula di Pariyangan,
beraja di Pagaruyung
Enyahlah kalian, dari negeri kami !

7 Agustus 1669
adalah awal perjuangan bagi kedaulatan Padang
adalah hari VOC tak bertaring lagi
dan sepanjang pantai Minangkabau 
di bawah kuasa Dipatuan Agung di Pagaruyung
yang dibayar mahal dengan nyawa, harta dan air mata

Langit cerah kini telah menudungi kota
Indah alam, adat budaya pun santun menyapa
warisan leluhur bernilai tak terkira
Sebarlah benih ketentraman di subur tanahnya
agar kita tuai buah kedamaian, di Padang Kota Tercinta.

(Padang, 19 September 2011)

PADANG, SEPI MEMAGUTKU

Kutabur rindu di jantung kota
berderaianlah kepingan rasa
di sepanjang jalanan usang
yang lama tak kusinggahi

Damai Padang, ombak bersilih menyapa
Pasar Gadang gedung tua, menyimpan kisah Siti Nurbaya
Nyiur pun melambai di sepanjang pesisir pantai
memanggil-manggil hatiku untuk kembali

Ketika ku pulang, sepi memagut rasaku
ada keharuan di setiap sudut kota yang ku lalui
Sahabat, dimana Engkau kini?
Kurindu masa itu, saat kau beriku kekuatan
di kala ku terjatuh

Namun, kini ku mesti kembali
beranjak tinggalkan kota
Percayalah,
bila rindu tak terbendung lagi, kelak pastiku kan kembali.

(Padang, 20 September 2011)

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Puisi " Padang, 7 Agustus 1669 ", puisi yang berlatar belakang masa perjuangan kedaulatan kota Padang, pada hari itu sebagai awal masyarakat kota Padang melakukan pertempuran besar dan kecil menentang penjajahan Kolonial Belanda. Sehingga Tanggal 7 Agustus 1669, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Padang. Dan pertempuran besar dan kecil dari masyarakat Kota Padang menentang penjajahan adalah sebagai salah satu mata rantai perlawanan Tanah Air terhadap penjajahan Kolonial Belanda, menuju Kemerdekaan Indonesia.

    BalasHapus
  3. Ulasan tambahan, Puisi "Padang, 7 Agustus 1669". Sejarah mecatat, dengan jatuhnya serangan secara serentak oleh masyarakat Kota Padang terhadap benteng Belanda Pada tanggal 7 Agustus 1669, di kalangan VOC mengakui dengan resmi bahwa kedaulatan atas kota-kota yang diduduki Belanda sepanjang Pantai Minangkabau, dipegang oleh yang Dipatuan di Pagaruyung. Sedangkan wakil VOC di Padang hanyalah bertindak sebagai pusat pemerintahan saja.

    BalasHapus
  4. Puisi PADANG 7 Agustus 1669
    Merupakan sebuah puisi yang heroik.
    Yang sangat menggugah untuk tumbuh kembangkan nilai-nilai cinta tanah air...

    Puisi, PADANG, SEPI MEMAGUTKU
    Sebuah roman yang menyayat ...

    Kala seorang renta yang tak kenal dunia kini
    yang telah bergelimang teknologi namun tiada menguasai
    Tak pernah sekolah hingga tak punya kesempatan 'ntuk reuni.
    Terlahir dari perut bumi, hingga tiada sanak family

    Sungguh kerinduan yang tiada kan terobati.

    BalasHapus