Sabtu, 24 September 2011

Puisi Wahyu Saputra

WAHYU SAPUTRA, lahir di Sungai Lintang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, 14 September 1987. Pernah kuliah di Andalas Institute Manajemen (AIM) Jayanusa Padang. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP). Pernah aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP, serta Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP. Ia juga pernah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan drama Segitiga Tanpa Sudut karya Suci Hidayati di FBS UNP dan aktor drama dalam pementasan Randai di Fakultas Sastra (FS) Udayana Bali. Puisi-puisinya juga pernah terbit di media kampus, SKK Ganto UNP. Sekarang ia sedang bergiat di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP. Tempat tinggalnya Jln. Gelatik 4 No. 56 Perumnas Air Tawar Padang, namun selalu menghabiskan waktu luangnya di kampus.

BINGKUANG KOTAKU

Aku perantau dari kejauhan
Meniti jalan dari ujung pesisir, Bangkahulu menuju kota Bingkuang
Teluk Bayur pelabuhan gadang peninggalan zaman
Jalannya sang perantauan ke kota dagang

Hai kawan
Padang namanya, kotaku kotamu kota kita
Kota Bingkuang julukannya bukan bait-bait slogan
Tapi lihat, Terminal Bingkuang persinggahan kenangan
Lengang, namun ia terbang tinggi menjulang
di bawa musafir dan perantauan ke negeri seberang

Hai kawan
Lihatlah, tak kah kau sapa, pedagang minang dipinggir jalan
Jejeran bingkuang nan gadang-gadang
Beralunan lagu tembang kenangan
Buah tangan dari Padang

Oh, Padang Kota Bingkuang
Namamu ku kenang di sepanjang zaman
tak lapuk dalam ingatan
hingga ragaku sirna dan terbenam

Padang, September 2011

PROTES PANTAI PURUS

Masih kuingat, tepat lima tahun silam
Tiga sekawan menginjak kaki di kota padang
Kuikuti langkah kaki ayunan tangan
Sejalan telusuri petang pantai pinggir Padang
Kuhempaskan penat di sela batu tersusun panjang

Mengenang masa indah
Kupotret matahari yang tenggelam di balik lautan
Bola mataku berputar memandang awam
Tersenyum, ombak bersatu mengejar pasir perawan
Menjangkau kaki-kaki menjuntai di atas tumpukan batu
Menggulung, menghempas, seolah mendengar cengkrama hati
“Indah dan damainya Pantai Purus”

Kini lima tahun itu telah lenyap dari pandangan
Kujejaki pantai pinggir Padang seorang
Tak kulihat lagi batu tempat kubersandar dulu
Semua hilang di bawah selimut tirai cinta
Ah, zaman sekarang semakin suram
Mereka lebih memilih hitam daripada putih
Ia menyukai temaram remang daripada terang cahaya-Nya

Dari kejauhan redup cahaya langit-Mu
Kulihat kaki muda-mudi bersilang
Duduk di atas kursi rendah tak berkaki
Bernaung di bawah payung-payung asmara
Bersatu di muara bandar menuju lautan
Semoga tak kulihat lagi.

Padang, September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar