Senin, 26 September 2011

Puisi Massuha el-Arief

MASSUHA EL-ARIEF, lahir di Sumenep 20 Maret 1985. Sekarang tinggal di PP. Annuqayah Lubangsa Blok E/ 01 Guluk-Guluk Sumenep Madura dan aktif di SANGGAR ANDALAS, BENGKEL PUISI ANNUQAYAH. Puisinya pernah diantologikan bersama Sanggar ANDALAS, Risalah Dua Jari (Andalas Press; 2002), Annuqayah Dalam Puisi, (Bengkel, 2008), Manuskrip Pertama (Bengkel 2009) Merpati Jingga (Balai Bahasa Surabaya: 2006) Air Mata Hujan 2 (Sanggar Andalas; 2006), Tetesan Kota Sarung (Sanggar Andalas: 2007), Pertemuan Dua Kota (Sanggar Andalas: 2008) dan Sepotong Senja di Kotamu (Sanggar Andalas 2009), Memburu Sajak (Sanggar ANDALAS: 2010), Cahaya NUN (Sanggar Andalas 2011), Puzzle (puzcomunity; 2011).

ALAMAT YANG HILANG

Aku lahir di desa membawa sebentuk mural yang telah lama tercipta di jantung kota. Tapi mengapa aku tidak menemukan alamat negeriku, mungkin nama dan alamatnya sudah  berubah atau bersulih menjadi rahasia. Sehinga, mudah berpetualang antara kapitan pattimura dan cendrawasih. dan siapa yang akan mendengarkan puisi ini
wahai roh bernafas surga;
tolong carikan alamat negriku saat ini
aku sudah lama tinggal dikubuk tua tak bertulis merdeka
hanya air mata bertuliskan luka
kiai…
kaulah titipan Nabi. do’amu selalu dinanti. tolonglah  tanyakan alamat rumahku
oh santri
generasi kiai. jika malam jum’at; tolong bacakan surat  Yasin agar menemukan alamat rumahku

wahai para politikus
tolong kaji secara kritis agar rumahku menemukan kemerdekaan dan kejiwaan. Sehingga melahirkan keputusan tentang alamat rumahku yang dulu.

Bumi Annuqayah 2007-2011

MALAIKAT KATA

(1)
;za
suara bening hatimu mengetuk pintu rumahku. abjad-abjad subuh meluruhkan waktu. dingin berselimut sajak biru serupa bisikan maut di telingaku tempo dulu. tubuhku gemetar. seperti nabi dengan malaikat. menerima wahyu dari keriuhan nafas jagat. bila senyummu jadi kanvas lukisku.percikan bibirmu menyusun ribuan kisah di jiwaku.

(2)
Beling matamu
Mengiris jiwa 
Mengalirkan karat tua

(3)
Berjuta-juta malam, aku menafsir-nafsir salatku yang lima waktu. Tapi wajahmu belum datang kala rakaatku batal satu-satu. masihkah kau menyimpan peluru. Atau beling mengiris waktu. Mengalirkan darah di atas sajadah
Bibir pagi yang aku tulis dihari yang suci . hanya untuk pelangi jiwamu. menjadi malaikat kata dalam sabda

Maaf
Kalau puisiku mengalirkan aksara racun pada waktu
Aku hanya berimaji lewat hati yang suci
Bukan untuk dipuji

(4)
Matamu yang dingin. membuatku gigil pada yang maha adil. tetes kedip kerlap kerlip membening darahku
mengalirkan  riak-riak rindu pada waktu

za;
cahaya hatimu membelah cakrawala biru ditelagaku. gerak langkah
yang kau ayunkan menyisakan jejak rindu. hingga aku tenggelam ke lautmu yang biru

(5)
hari ini aku bertemu lagi ;dengan wajah memori; senyum melafatkan arti
dalam suara hati. masihkah telaga biru bergelombang salju. atau sungai-sungai kata tak lagi mengalir sabda. getar pisah sudah lama menjauh.
bintik pelangi mulai melingkar mencari irama dalam nada yang sama
aku mulai menata suara jiwa
untuk melantunkan ayat-ayat rasa

Lubangsa, 2007-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar