Kamis, 29 September 2011

Puisi Moh. Ghufron Cholid

MOH. GHUFRON CHOLID, lahir di Bangkalan 7 Januari 1986 Putra KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh seorang Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), seorang Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Yayasan Al-Amien Prenduan, telah menyelesaikan studi S1 Di IDIA Prenduan Fakultas Dakwah Komunikasi Penyiaran Islam, Kepala MI Nahdlotut Tholibin Junglorong (2011-hingga sekarang). Antologi Puisi Mengasah Alief (SSA, 2007), Antologi Puisi Yaasin (Balai Bahasa Jatim, 2007) Antologi Puisi Toples (Total Media, 2009) Antologi Puisi Akar Jejak (SSA, 2010), Antologi Puisi TigaBiruSegi (Hasfa Publishing, 2010), Dear Love (Hasfa Publishing, 2011), Antologi Puisi Negeri Cincin Api (LESBUMI, 2011). Curhat Untuk Tuhan (Leotika Prio, 2011) Yang terbit Online Kumpulan Puisi Heart Weather (ebook pertama 2010 di scribd.com dan ebook kedua, 2010 di evolitera.co.id), Kumpulan Puisi Dari Huruf Hingga I'tikaf (ebook di evolitera.co.id, 2010), Antologi Puisi Menuju Pelabuhan (ebook pertama di scribd.com,2010 dan ebook kedua di evolitera.co.id, 2010). Antologi Puisi Ketika Penyair Bercinta (ebook pertama di scribd.com, 2010 dan ebook kedua di evolitera.co.id, 2010). Antologi Cerpen Cinta Reliji Lintas Negara (evolitera.co.id, 2010) KUN FAYAKUN CINTA Antologi Puisi Reliji Lintas Negara (evolitera.co.id, 2010) Antologi Puisi Jadwal Kencan (evolitera.co.id, 2011), Antologi Puisi Indonesia Di Mata Penyair (ebook pertama di evolitera.co.id, 2011 dan ebook kedua di jakartabeat.net, 2011). HAIKU SAKERA dibacakan di Japan Foundation Jakarta saat lounching buku Danau Angsa. Dimana Kita Kan Tegak Berdiri salah satu puisinya yang mendapat juara harapan di Malaysia. Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang.

PADANG, MEMBACAMU DENGAN MATA WAKTU

Membacamu dengan mata waktu
Kusaksikan Malin Kundang, Matahari batu
Menyapaku dalaum raung sesal
Yang semakin binal

Membacamu dengan mata waktu
Kulihat Siti Nurbaya, gadis pemalu
Permata nyilu
Cinta yang kelabu

Membacamu dengan mata waktu
Air tak henti memulung airmata, anak-anak asuhmu
Sementara anak-anak rantau
Semakin pandai berburu kemilau

Membacamu dengan mata waktu
Aku hanya mampu
Tegak depan pintu
Menunggumu, menyambut hadirku dengan senyummu

Membacamu dengan mata waktu
Aku tak pernah tuntas menggali
Mata air budi
Sepanjang tanahmu, yang penuh rayu

Membacamu dengan mata waktu
Maka izinkan aku
Menulis puisi
Barangkali kau semakin permata dalam lubuk hari

Kamar Hati, 2011

PANGGIL AKU SITI NURBAYA

Panggil aku Siti Nurbaya
Perempuan jelita berhati mutiara
Batu cinta
Tak pernah tuntas dibahas masa

Panggil aku Siti Nurbaya
Bidadari Padang pesona
Berbaju luka
Dalam peluk Datok Maringgi renta

Panggil aku Siti Nurbaya
Selaksa purnama
Walau tumbuh dalam gulita
Saat bersama Syamsyul Hadi yang perkasa

Segala arah menyatu sukma
Bila cinta tak seirama
Selalu sama namaku bergema
Dalam dada masa

Panggil aku Siti Nurbaya
Dari sudut paling sepi
Dalam dadamu, perempuan Indonesia
Dan biarkan air luka kuteguk sendiri

Karena itu
Panggil aku
Siti Nurbaya
Dalam tiap doa

Barangkali
Aku  menjelma air
Mengalir dan terus mengalir
Hingga desah zaman, tak terdengar lagi

Kamar Hati, 2011 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar